“ PEMIMPIN
SEPERTI APAKAH SAYA? ”
Ketika
mendapatkan tema seperti ini, “Pemimpin Seperti Apakah Saya?” saya menjadi
teringat ketika saya masih SMP dan SMA, yakni di mana masa-masa saya belajar
menjadi seorang pemimpin di dalam kelas ataupun di suatu organisasi. Jika saya
mengingat hal tersebut, maka yang terlintas di benak saya adalah saat itu saya
belum bisa memimpin dengan baik. Ketika saya menjadi ketua kelas saat kelas 7
SMP, saya tidak bisa mengkondisikan kelas yang berisik dan gaduh ketika ada
guru yang tidak masuk kelas dan hanya diberi tugas. Seisi kelas sangat berisik
dan saya mencoba menenangkan keadaan kelas dengan berteriak-teriak dan dengan
nada agak marah, bukan tegas, sehingga teman-teman hanya diam sejenak dan
mengabaikan saya. Kelas pun kembali ribut. Saat itu saya masih memiliki rasa
takut untuk memimpin dan bertanggung jawab apa yang diamanahkan oleh teman
saya. Maklum, saya masih berumur 12 tahun dan masih ada sikap “ababil” di dalam
diri saya.
Berlanjut
lagi ke pengalaman saya ketika berada di SMA. Saya mengikuti suatu organisasi
dan terjadi regenerasi kepengurusan saat kelas 11. Saya melihat teman-teman
saya sangat antusias di organisasi lain dan banyak di antara mereka ingin
mengajukan dirinya sebagai ketua. Sementara, di organisasi yang saya ikuti
sangat minim sekali anggota yang berminat menjadi ketua. Saya bertanya ke
teman-teman saya apakah ada yang bersedia mencalonkan diri sebagai ketua dan
jawaban mereka bermacam-macam, seperti, “Lo aja li yang calonin diri, gue ga
bisa jadi ketua”. Yaa kurang lebih jawabannya seperti itu. Bertanya ke adik
kelas juga seperti itu, tidak ada yang mau mencalonkan diri sebagai ketua,
setidaknya bersikap berani terlebih dahulu lebih baik dari pada belum mencoba
tetapi sudah menyerah. Saya pasrah saja terhadap situasi yang terjadi dan mau
tidak mau, suka tidak suka, hanya saya dan satu orang adik kelas saya yang
bersedia mencalonkan diri, itupun karena saya desak. Apa jadinya jika hanya
saya yang mencalonkan diri ???? Saya tidak akan memiliki wakil ketua. Dengan
keberanian yang seadanya saya pun menjalaninya dengan agak berat hati. Bukannya
saya tidak ikhlas atau bagaimana, tapi saya sedih dengan organisasi tersebut
karena kekurangan sosok calon pemimpin. Mereka hanya bersedia menjadi bawahan
atau anggota saja. Akhirnya saya yang terpilih sebagai ketua. Saya mulai
menjalankan beberapa proker. Awal-awal kepengurusan, proker masih berjalan
dengan baik, tapi lama kelamaan hanya saya saja yang bergerak untuk menjalankan
proker tersebut padahal saya sudah berkoordinasi dengan teman-teman agar
membantu saya dan mereka menyanggupinya. Tetapi pada kenyataannya, saya–lah yang
mencari-cari mereka (teman-teman) dan wakil saya bersikap pasif, hanya menunggu
perintah dari saya dan kurang melaksanakan apa yang seharusnya menjadi tugasnya
ketika ingin menjalankan kegiatan rutin setiap Jumat.
Saya sedih dengan keadaan tersebut dan membuat saya
berpikir apakah saya tidak tegas terhadap mereka dan tidak bisa menjadi
pemimpin yang baik atau ada hal lain yang membuat organisasi yang saya ketuai
menjadi organisasi yang pasif. Pembina pun telah menegur saya dengan memberi
beberapa masukan dan ikut serta dalam kegiatan untuk memantaunya. Ia juga
mencoba memberi masukan kepada anggota yang mengikuti kegiatan tersebut agar
mendukung kegiatan yang diadakan. Hingga akhirnya kegiatan rutin menjadi
benar-benar tidak aktif selama beberapa minggu dikarenakan saya hanya
menjalaninya sendiri tanpa ada teman-teman yang membantu, padahal sebelumnya
saya sudah memberitahukan teman saya agar membantu saya. Saat itu saya
benar-benar tidak bisa menjalankan amanah dengan baik. Apabila saya mempunyai
teman-teman pengurus yang juga siap mengemban amanah dengan baik, pasti saya
bisa menjadi ketua yang baik. Saya menjadi ketua yang setengah-setengah karena
tidak didukung oleh pengurus yang lain.
Dari
pengalaman di atas, saya dapat menggambarkan pemimpin seperti apakah saya pada
saat itu, yakni saya belum menjadi pemimpin yang all out dan berani dengan segala hal yang akan saya hadapi. Saya
masih agak ragu melangkah menjalankan amanah saya dan saya belum berani
berbicara dengan baik di dalam forum. Selain itu, saya kurang bisa menggerakkan
dan mempengaruhi anggota lain agar bisa mengikuti apa yang saya inginkan dalam
menjalankan kegiatan rutin tersebut. Saya belum bisa menjadi pemimpin yang
dihormati oleh anggota lain karena saya tidak membedakan antara hubungan di
dalam organisasi dengan di luar organisasi. Jadi mereka (mungkin) menganggap
saya sebagai teman yang tidak akan marah ketika mereka tidak melaksanakan tugas
yang diamanahkannya dengan baik. Berarti, dalam hal ini saya tidak bisa tegas
terhadap mereka. Itulah gambaran pemimpin seperti saya saat itu dan saya kira tidak
pantas untuk ditiru oleh calon pemimpin lainnya.
Mengapa
bisa saya katakan seperti itu??? Karena idealnya seorang pemimpin harus bisa
menggerakkan orang lain, minimal memimpin orang yang ada di sekelilingnya, dan
bisa mempengaruhi mereka apapun hal yang baik yang dilakukan oleh seorang pemimpin.
Selain itu, kelemahan saya dalam memimpin yakni masih ada keraguan ketika ingin
mengambil suatu keputusan. Padahal, seorang pemimpin harus bisa
mempertimbangkan dengan cepat ketika ingin mengambil keputusan karena seorang
pemimpin itu harus yakin dan bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang
dia ambil serta menanggung seluruh konsekuensi dari hal tersebut.
Seorang
pemimpin yang baik tidak setengah-setengah dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya. Kalau untuk hal yang satu ini, saya bisa menanganinya dengan baik
dalam hal memimpin diri saya sendiri. Ketika saya bertanggung jawab hanya
kepada diri sendiri, saya bisa melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggung
jawab tersebut dengan sepenuh hati karena saya tidak terbiasa malas mengerjakan
tugas, misalnya pekerjaan rumah yang diberikan guru dan dosen. Namun ketika
berhadapan dengan tugas yang notabene bukan tugas individu, saya memilih untuk
tidak mendominasi di dalam kelompok. Saya membiarkan teman yang lain memimpin
dalam forum karena menurut saya ada yang lebih baik dari saya.
Kadangkala
seorang pemimpin harus bisa menjadi penunjuk jalan dan ia akan bisa menjadi
penunjuk jalan jika ia memiliki pengetahuan dan pandangan yang luas. Pemimpin
yang baik jika ia bisa menunjukkan komitmennya melalui sebuah tindakan yang
nyata, bukan hanya sekedar kata-kata. Saya belum memiliki sikap seperti di atas
karena kemampuan saya untuk menggerakkan orang lain masih belum ada dan itu
karena saya belum melatihnya dengan baik ketika saya berorganisasi.
Saya
adalah pemimpin yang tidak akan keras terhadap anggota, saya akan lebih
membebaskan anggota saya bekerja sesuai kemampuan mereka selama mereka mampu
menjalankan tugas dengan baik. Selain itu, saya juga menganggap semua anggota
adalah teman karena yang membedakan hanyalah posisi. Tetapi itulah yang membuat
saya menjadi kurang memiliki karisma. Terkadang ada yang kurang menghormati
saya karena sikap saya tersebut. Itulah yang saya pelajari saat ini ketika
mengingat beberapa waktu yang lalu saat memimpin suatu organisasi.
Saya
telah menjadikan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang tak akan pernah saya
ulang lagi di masa yang akan dating ketika saya memimpin, baik itu memimpin
diri sendiri, dalam forum, dalam organisasi, dalam keluarga, atau pun nantinya
dalam masyarakat karena yang dibutuhkan dari kepemimpinan itu sendiri adalah
berkomunikasi, berkontribusi, dan bersinergi dengan lingkungan sekitarnya. Saat
kita semakin dewasa, maka kesalahan yang sama saat kita memimpin diusahakan
dihilangkan sedikit demi sedikit dan digantikan dengan sikap kita yang baru
yakni sikap yang lebih semangat, mampu membuat orang lain terpengaruh dengan
kita, orang lain bisa menghormati kita ketika kita berbicara, atau minimal
semakin bertanggung jawab terhadap diri sendiri.
Sesungguhnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang
bisa membawa arah dan tujuan organisasi dengan jelas serta memiliki beberapa
langkah atau strategi untuk mencapainya. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan
berkomunikasi yang baik sehingga bisa memastikan pesan yang disampaikan kepada
orang lain dalam organisasi memiliki arti dan persepsi yang sama sehingga tidak
ada kerancuan atau perbedaan persepsi antara satu dengan yang lainnya.
Selanjutnya pemimpin juga memiliki kemampuan untuk menjadi teman yang
menyenangkan bagi anggotanya karena dengan mengembangkan hal tersebut maka
seorang pemimpin akan dengan mudah membangun relasi dan semangat tim ke arah
yang lebih baik. Hal penting lainnya dari sikap yang harus dimiliki oleh
pemimpin yakni ia mampu membuat dan medorong orang lain melakukan tugasnya,
bukan pemimpin yang mengerjakan semua tugas-tugasnya. Untuk apa ia mempunyai
anggota jika tidak diberdayakan dengan baik. Selanjutnya adalah seorang
pemimpin tahu dan paham akan bidang yang ia pimpin di dalam organisasi serta
mengetahui apa saja hambatan dan rintangan yang mungkin akan terjadi dalam
beberapa waktu yang akan dating. Ia harus memahami kelebihan dan kekurangan apa
saja yang ada di dalam dirinya untuk menghadapi berbagai kemungkinan masalah. Seorang
pemimpin yang tidak mampu menghadapi masalah dan memilih mundur dalam
menghadapi situasi yang sulit, maka ia tidak pantas dijadikan panutan karena ia
telah memberi pengaruh yang buruk bagi keseluruhan organisasi. Idealnya seorang
pemimpin harus menjadi panutan dan teladan bagi semua anggota atau orang yang
berada di sekelilingnya. Dan pemimpin yang baik juga harus konsisten terhadap
sikapnya, yakni dengan tidak menyembunyikan citra dirinya karena tanpa disadari
atau tidak, ketika ia menjadi dirinya sendiri, maka sikap ia tidak akan berubah
dalam menilai, melihat, mendengarkan, dan menyampaikan sesuatu, sehingga dengan
sendirinya kharisma akan muncul dengan seiringnya komunikasi yang baik dan
citra diri yang baik juga. Apabila seorang pemimpin telah memiliki citra yang
baik, maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah penuh semangat karena
pemimpin yang mempengaruhi orang dengan penuh semangat akan membawa energi yang
positif bagi orang-orang di sekelilingnya dan cenderung akan mengerjakan tugas
dengan sepenuh hati, walaupun tugas yang dihadapi sangatlah berat.
Saya berharap dapat memperbaiki diri saya seperti
ciri-ciri pemimpin yang telah saya sebutkan, walaupun tidak semuanya dapat saya
lakukan, paling tidak ada beberapa sikap yang akan saya lakukan sedikit demi
sedikit untuk menjadi pemimpin yang baik bagi diri saya sendiri, keluarga,
teman-teman, dan orang-orang di sekeliling saya. Karena untuk menjadi seorang
pemimpin yang baik butuh proses dan tidak semata-mata sekejap langsung jadi.
BE A GOOD LEADER FOR
THE BRIGHT FUTURE !!!! JJJJJJ