290713

Sederhana
Aku berdoa dengan sederhana di hari 
lahirmu ini

Ucapan
Aku mengucapkan selamat ulang tahun untukmu
Semoga kau panjang umur dan sukses selalu

Berharap
Aku berharap dapat bertegur sapa lagi denganmu
ketika tak ada gelak tawa dan hadirmu di hadapanku

Ingat
Aku selalu ingat setiap orang dan kenangan yang berharga bagiku
Bagiku, kau termasuk salah satunya
Tanpamu, hari-hariku di masa itu takkan pernah terisi senyum darimu

Terima Kasih
Aku mengucapkan terima kasih karena kau masih mau membalas pesan dariku
Walaupun sebentar, bagiku itu sangat berarti

Tak lagi-lagi aku berharap padamu
Karena kau hanya sebingkai kisah di masa laluku

-SEKIAN-
290713
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kegalauan Mahasiswi Tingkat Tiga (Lagi)

sumber: www.google.com
Lagi dan lagi...

Ketika musimnya kelas 12 lulus dan mereka mengikuti tes masuk perguruan tinggi sana-sini, seketika itu pula muncul lagi rasa kegundahan. Entah kenapa aku selalu iri kepada mereka yang berhasil masuk perguruan tinggi favorit. Ya, itu memang sudah jadi takdir mereka sih.. Tapi, tapi, dan tapi. Rasa ini selalu dimulai dengan kata tapi ketika menyeruak ke permukaan hati. Aku pernah mengalami hal yang sama dengan mereka. Berjuang demi mendapatkan bangku kuliah di perguruan tinggi negeri, khususnya. Memang sih, aku bermimpi untuk berkuliah di perguruan tinggi favorit sangat sangat terlambat, yaitu ketika kelas 12. Harusnya jika aku memang benar-benar ingin berkuliah disana, aku akan menuliskannya sejak aku kelas 10 atau bahkan sejak SMP. Nyatanya? Tidak. Namun, secara tidak sadar aku telah menuliskan salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta sejak kelas 8. Walaupun saat itu aku masih belum paham seluk beluk dunia perkuliahan, jadi aku hanya menuliskannya tanpa aku memimpikannya.

Kegundahan itu muncul ketika aku melihat banyak adik-adik kelasku yang berhasil mendapatkan bangku kuliah di perguruan tinggi negeri favorit. Bahkan, ini kali kedua juga aku melihat orang yang dengan semangatnya meng-update status melalui media sosial karena sangat menginginkan berkuliah di perguruan tinggi tersebut. Tiap hari mereka meng-tweet perjuangan mereka dimulai dari ketika persiapan ujian, menjelang ujian, saat ujian, penantian menjelang hari pengumuman, dan saat pengumuman ketika mereka diterima di perguruan tinggi favorit tersebut. 

Ahh.. diri ini malu sekali dengan gigihnya perjuangan mereka meraih apa yang mereka impikan. Andai saja dulu aku segigih mereka. Andai saja aku berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan salah satu bangku di perguruan tinggi tersebut. Ahh.. itu semua hanya andai saja. Percuma saja baru berkata andai saja ketika sudah dua tahun berlalu. Aku seperti orang yang tak bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan. Maafkan aku, Ya Rabb..

Aku mengerti, jalan hidup setiap orang sudah ditentukan masing-masing oleh Yang Maha Kuasa. Dia-lah yang sangat menentukan ketika kita sudah maksimal dalam berusaha dan berdoa. Apalah daya kita berandai-andai terus menerus, namun akhirnya Dia juga yang menentukan segalanya.

Aku sadar, tak perlulah aku menyesali semua yang telah terjadi. Hidup ini harus dihadapi dan dijalani dengan sebaik-baiknya bagaimanapun kondisi kita saat ini. Tak penting dari mana asal kuliah kita. Hal terpenting adalah bagaimana memaksimalkan potensi yang kita miliki di ladang yang sedang kita garap saat ini. Toh, hasilnya kita juga yang akan menuainya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Resensi Buku 23 Episentrum

Resensi "23 Episentrum"
#‎Kecebook #‎NonProkerRK2013-2014

Sumber: www.google.com
Identitas Buku
Judul : 23 Episentrum
Penulis : Adenita
Penerbit : Grasindo
Tebal : 278
Kategori Buku : Fiksi
Tahun Terbit : 2012

Sinopsis
            23 Episentrum merupakan sekuel dari novel sebelumnya, yaitu 5 Matahari, yang menceritakan tentang perjalanan hidup Matari Anas yang berusaha memperjuangkan mimpinya untuk mencicipi bangku kuliah. Berbekal keberanian dan tekad yang kuat untuk merubah nasib diri dan keluarganya, Matari harus rela banting tulang dan berhutang sana-sini untuk menutupi biaya hidup dan kuliahnya di Bandung. Hingga akhirnya, ia berhasil meraih gelar sarjana seperti yang ia impikan selama ini. Dengan diraihnya gelar sarjana, bukan berarti ia terbebas dari segala tuntutan hidup. Kini, masalah yang ia hadapi adalah bekerja sekeras mungkin untuk melunasi hutangnya yang berjumlah puluhan juta rupiah.
            Matari Anas, seorang Sarjana Komunikasi Universitas Panaitan, Bandung, yang merasa terlambat memulai kariernya karena ia baru saja lulus di saat teman-temannya sudah menjadi kutu loncat dalam bekerja. Tari, begitu nama panggilannya, memiliki impian untuk menjadi news anchor. Namun, ia harus menunda impiannya tersebut karena ia diterima bekerja di kantor berita bernama TvB sebagai seorang reporter, bukan news anchor. Dan, TvB adalah tempat Matari melanjutkan impian hidupnya dengan tujuan utama: melunasi utang kuliahnya, 55 juta! Mampukah Tari melunasi utangnya sekaligus mencapai impiannya sebagai news anchor?
            Awan Angkasa, seorang Sarjana Matematika yang merasa salah memilih pekerjaannya yaitu sebagai Treasury Finance di Bank Madani. Bagi Awan, pekerjaan yang dilakoninya saat ini karena ingin menggugurkan kewajibannya sebagai seorang lulusan perguruan tinggi ternama yang harus cepat bekerja dan Awan tak mampu mengubah stigma dari ibunya bahwa bekerja itu haruslah di kantor. Mampukah Awan merubah stigma ibunya dan memilih jalan hidup yang telah ia impikan sebagai penulis naskah film?
            Prama Putra Sastrosubroto, 27 tahun, seorang Sarjana Teknik Perminyakan yang lulus tepat waktu dan langsung dilamar oleh perusahaan minyak Prancis, T&T, sebagai Reservoir Engineering, dan berstatus sebagai International Mobile Employee. Status yang membuatnya harus siap berkelana ke berbagai belahan benua. Namun, semua pencapaian itu tidak serta merta membuatnya bahagia. Prama merasa refleksi kariernya bukan pada uang, namun pada ketenangan serta kebahagiaan hati. Mampukah Prama menemukan kebahagiaan hatinya yang selama ini ia cari?
            Seluruh kisah mereka akan terangkai dalam sebuah perjalanan mata, hari, dan hati. Mereka akan jadi saksi bagaimana impian mereka terwujud dengan jalannya masing-masing. Saksi dari sebuah perjalanan hidup yang penuh dilema dan pertanyaan hidup yang terus bermunculan. Karena intinya, setiap orang berhak mengukir perjuangannya sendiri dan bebas memperjuangkan apa yang diyakininya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Kelebihan :
            Kelebihan dari buku 23 Episentrum adalah buku 2 in 1, yaitu tersedianya buku “Suplemen 23 Episentrum” yang berisi cerita tentang 23 orang yang berani melakukan pekerjaannya sesuai dengan apa yang mereka cintai. Kisah kecintaan terhadap apa yang mereka lakukan. Karena mereka percaya, sesuatu yang dilakukan dengan hati akan selalu menghasilkan energi yang tak pernah mati.

Kekurangan :

                  Kekurangan dari buku ini yaitu klimaks dari jalan cerita yang dihadirkan kurang maksimal. Permasalahan yang dialami oleh tokoh mengalir terselesaikan begitu saja.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS