Kegalauan Mahasiswi Tingkat Tiga (Lagi)

sumber: www.google.com
Lagi dan lagi...

Ketika musimnya kelas 12 lulus dan mereka mengikuti tes masuk perguruan tinggi sana-sini, seketika itu pula muncul lagi rasa kegundahan. Entah kenapa aku selalu iri kepada mereka yang berhasil masuk perguruan tinggi favorit. Ya, itu memang sudah jadi takdir mereka sih.. Tapi, tapi, dan tapi. Rasa ini selalu dimulai dengan kata tapi ketika menyeruak ke permukaan hati. Aku pernah mengalami hal yang sama dengan mereka. Berjuang demi mendapatkan bangku kuliah di perguruan tinggi negeri, khususnya. Memang sih, aku bermimpi untuk berkuliah di perguruan tinggi favorit sangat sangat terlambat, yaitu ketika kelas 12. Harusnya jika aku memang benar-benar ingin berkuliah disana, aku akan menuliskannya sejak aku kelas 10 atau bahkan sejak SMP. Nyatanya? Tidak. Namun, secara tidak sadar aku telah menuliskan salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta sejak kelas 8. Walaupun saat itu aku masih belum paham seluk beluk dunia perkuliahan, jadi aku hanya menuliskannya tanpa aku memimpikannya.

Kegundahan itu muncul ketika aku melihat banyak adik-adik kelasku yang berhasil mendapatkan bangku kuliah di perguruan tinggi negeri favorit. Bahkan, ini kali kedua juga aku melihat orang yang dengan semangatnya meng-update status melalui media sosial karena sangat menginginkan berkuliah di perguruan tinggi tersebut. Tiap hari mereka meng-tweet perjuangan mereka dimulai dari ketika persiapan ujian, menjelang ujian, saat ujian, penantian menjelang hari pengumuman, dan saat pengumuman ketika mereka diterima di perguruan tinggi favorit tersebut. 

Ahh.. diri ini malu sekali dengan gigihnya perjuangan mereka meraih apa yang mereka impikan. Andai saja dulu aku segigih mereka. Andai saja aku berniat dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan salah satu bangku di perguruan tinggi tersebut. Ahh.. itu semua hanya andai saja. Percuma saja baru berkata andai saja ketika sudah dua tahun berlalu. Aku seperti orang yang tak bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan. Maafkan aku, Ya Rabb..

Aku mengerti, jalan hidup setiap orang sudah ditentukan masing-masing oleh Yang Maha Kuasa. Dia-lah yang sangat menentukan ketika kita sudah maksimal dalam berusaha dan berdoa. Apalah daya kita berandai-andai terus menerus, namun akhirnya Dia juga yang menentukan segalanya.

Aku sadar, tak perlulah aku menyesali semua yang telah terjadi. Hidup ini harus dihadapi dan dijalani dengan sebaik-baiknya bagaimanapun kondisi kita saat ini. Tak penting dari mana asal kuliah kita. Hal terpenting adalah bagaimana memaksimalkan potensi yang kita miliki di ladang yang sedang kita garap saat ini. Toh, hasilnya kita juga yang akan menuainya.
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Kegalauan Mahasiswi Tingkat Tiga (Lagi)"

Posting Komentar