Sudah setengah windu aku mengenalnya. Selama itu pula aku telah memiliki rasa padanya. Berawal dari pertemuan pertama kala aku masih menjadi siswa baru di kelas X, aku dan sahabatku berkenalan dengannya usai sholat di tangga mushola sekolah. Masih lekat di ingatanku hingga kini momen-momen itu, momen yang kuciptakan sendiri supaya aku tetap bisa mengingatnya hingga kapanpun. Saat perkenalan itu, aku merasa dia orang yang membuatku tertarik padanya walaupun dia hanya sekedar mengobrol dengan aku dan sahabatku.
Waktu terus berjalan. Perkenalan antara junior dan senior sudah dekat. Entah mengapa aku selalu ingin mengikutinya, seperti aku bergabung ke KIR SMA ku. Aku tak tahu apa alasanku mengikuti KIR. Tapi yang pasti, aku ikut karena dia. Tak kusangka, pada obrolan kedua saat pertemuan anggota baru, aku melihat handphone-ku sama dengan miliknya, hanya saja beda warna. Aku warna pink, dia warna hitam. Entah apa maksud hal tersebut. Sudahlah, aku hanya menganggapnya sebagai sebuah ketidaksengajaan. Berawal dari situ, aku meminta nomor handphonenya. Siapa tahu aku ada keperluan dengannya. Hari berikutnya, aku bertemu dengannya di sebuah rapat acara rohis. Dan lagi-lagi, aku dan sahabatku mengobrol dengannya. Mungkin karena sifatnya yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja, aku mulai tertarik padanya. Ku coba ceritakan hal itu pada sahabatku. Tanpa diduga, ternyata sahabatku telah membaca sikapku bahwa aku menyukainya. Aku pikir, tak apalah.. Jadi aku bisa bercerita dengannya ketika aku mengalami suatu kejadian yang aku anggap menarik, tentunya kejadian dengan senior itu.
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, aku semakin tertarik padanya. Pernah aku merasa menyerah menyembunyikan perasaanku padanya dan aku berpikir-pikir untuk menyatakan perasaan ini padanya. Aku merasa bahwa lebih baik dia tahu daripada aku selamanya memendam rasa ini dan hanya melihat serta mengaguminya dari kejauhan. Kuputuskan pada malam itu aku akan memberitahunya tentang perasaanku padanya dan.... Sebenarnya aku sudah tahu apa jawaban dia, namun aku hanya ingin sekadar ia tahu apa yang kurasa, tidak lebih. Kalaupun lebih, itu mungkin bonus dari Allah. Hmm.. lega rasanya ketika ku telah mengungkapkan itu padanya. Keesokan harinya, ketika aku bertemu dia, ada rasa canggung ketika ku menatapnya. Buru-buru aku segera berpaling, berpura-pura tidak melihatnya. Namun, aku tak bisa. Aku ingin menegurnya walau hanya dengan senyum...
Masa perkenalan itu telah berakhir. Kini masuklah babak baru. Aku dan dia mulai ber-sms. Apa saja kita bicarakan. Aku tahu saat itu dia telah memiliki kekasih hati. Aku juga telah memiliki teman dekat dari teman seangkatan dia, supaya aku bisa tahu tentangnya, walaupun sedikit. Nah, dari situlah aku mulai mencari-cari tentang dirinya. Mulai dari berteman lewat friendster dan ketika ada facebook aku pun juga berteman dengannya di media sosial tersebut, walaupun dia jarang online. Aku tetap melihat profilnya. Tapi anehnya, aku sama sekali tidak berani menyapanya terlalu sering lewat fs ataupun fb karena aku menganggap kalau aku menyapanya lewat wall fb, orang lain akan tahu ada apa denganku dan dia. Jadi, aku cuma sesekali menyapanya. Itupun sebatas pesan pribadi.. Haha agak lucu juga ya ketika aku mengingat hal tersebut. Lucu.
Babak baru pun dimulai lagi. Aku naik ke kelas XI dan banyak kisah dan konflik yang terjadi. Sepertinya aku lebih banyak bertarung dengan perasaanku. Perasaanku hancur, cemburu (iya), sering menangis memikirkannya. Hal ini terjadi karena dia berpacaran dengan adik kelasku. Aku merasa seperti tak rela hal itu terjadi, padahal aku bukan siapa-siapa. Aku hanya sebatas ADIK. Tidak lebih. Hingga aku lulus SMA pun, aku hanya bisa melihat kisah cintanya dengan perempuan lain (yang sudah berganti tentunya). Aku pun masih sama, hanya sebatas ADIK. Tapi mengapa aku selalu ingin dianggap lebih dari ADIK?? aaah, aku tidak tahu mengapa ia hanya menganggapku sebagai seorang adik saja. Bahkan sampai tahun ke-4 pun, ketika aku dan dia telah berkuliah dan dia sudah berganti pasangan lagi, dia masih menganggapku hanya sebatas seorang adik. Kak, tidak bisakah aku lebih dari sekadar seorang ADIK ????
Aku masih terus setia menunggumu disini kak. Aku memiliki banyak kesamaan dengan kakak. Tak bisakah kita lebih dari itu?? Mungkin aku belum cukup menjadi seseorang yang kau inginkan. Atau jika tak keberatan, mungkin Allah akan menakdirkan aku sebagai sandaran terakhirmu? Tak ada yang bisa menggantikan kakak di hati ini, hanya kakak seorang yang spesial di mataku. Aku tahu, kalau jodoh takkan lari kemana. Tapi, bisakah aku lebih dari sekadar seorang ADIK??