Sendiri sendiri ku diam, diam dan merenung
Merenungkan jalan yang kan membawaku pergi
Pergi tuk menjauh, menjauh darimu
Darimu yang mulai berhenti, berhenti mencoba
Mencoba bertahan, bertahan untuk terus bersamaku
Ku berlari, kau terdiam, ku menangis, kau tersenyum
Ku berduka, kau bahagia, ku pergi, kau kembali
Ku mencoba meraih mimpi, kau coba tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu
Bayangkan bayangkan ku hilang, hilang tak kembali
Kembali untuk mempertanyakan lagi cinta
Cintamu yang mungkin, mungkin tak berarti
Berarti untukku rindukan
Ku berlari, kau terdiam, ku menangis, kau tersenyum
Ku berduka, kau bahagia, ku pergi, kau kembali
Ku mencoba meraih mimpi, kau coba tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu
Kini harusnya kita coba saling melupakan
Lupakan kita pernah bersama
Ku berlari, kau terdiam, ku menangis, kau tersenyum
Ku berduka, kau bahagia, ku pergi, kau kembali
Ku mencoba meraih mimpi, kau coba tuk hentikan mimpi
Memang kita takkan menyatu
Entah kenapa, belakangan ini selalu terpikir di benakku tentangnya. Aku tahu, aku bukan siapa-siapa. Tapi, setidaknya dia sudah ada di hatiku sejak empat tahun lalu ketika aku masih kelas X. Mengapa dia yang harus aku rindukan? Mengapa tidak yang lain saja yang ku rindukan? Sempat terpikir untuk menyudahi ini semua dengan menahan diri untuk tak memberi kabar padanya. Tapi hasilnya? SIA-SIA. Aku tak bisa menahan keinginanku untuk menekan tombol di hp ku dan memberi kabar padanya. Hingga saat ini, aku selalu menantinya, walaupun tak pasti.
Rasanya, aku ingin mengakhiri rasa yang belum pasti ada akhirnya. Kesibukan yang aku lakukan tak cukup untuk menghilangkannya dari benakku. Aku lelah dalam penantian ini. Aku letih selalu berharap di dalam mimpiku. Aku tak selalu menginginkan kehadirannya, tapi hatiku selalu berkata lain. Bayangannya selalu menetap di khayalku. Aku sudah mencoba meyakinkan hatiku untuk menyerah. Tapi? Lagi-lagi tak ada gunanya. Ingin kuucapkan selamat tinggal padanya, tapi aku belum punya keberanian untuk berkata selamat tinggal. Rasa ini ternyata tetap tumbuh di hatiku hingga kini dan kau pun selalu ku tempatkan di benakku. Bahkan, ketika pertemuan kecil itu pun cukup mengobati sedikit rinduku padamu. Aku luluh. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku terdiam dan beku seolah kau menghipnotis diriku yang sebenarnya aku sadar dan sedang berada di dekatmu.
Jika rasa ini benar untukmu, tak apa ku korbankan sedikit hati ini untukmu. Jika rasa ini tidak benar, ku mohon jangan terlalu lama menetap di hatiku. Biarkan hati yang lain menggantikannya. Aku pun masih berharap kepada seseorang yang dulu pernah menyukaiku. Mungkin suatu saat nanti dia akan kembali untukku jika aku memang benar tulang rusuknya. Lagi-lagi, aku pun hanya sedikit berharap padanya. Aku lebih berharap pada yang menciptakanku, Dia Yang Maha Besar dan Berkuasa atas apapun. Allah SWT. Kumohon, pegang dan jaga segumpal dagingku ini, wahai Rabbku. Aku yakin rencanamu lebih indah dari apapun. Buatlah aku bersabar atas segala apapun, karena tanpa-Mu aku bukan apa-apa.









0 Response to "Haruskah terpisah?"
Posting Komentar