Pagi ini, suasana
pagi sangat cerah sekali. Sang surya telah bangkit dari singgasananya dan siap
merajai hari ini apapun yang terjadi. Sementara itu, burung-burung pun telah
hinggap di tiap untaian tali yang meggantung di udara. Begitu juga dengan
suasana hati Analea. Dia sangat senang sekali. Apalagi ketika ia bangun, si
Pussy, kucing kesayangannya, telah bangun untuk menyambut paginya.
Hari ini, kegiatan Analea seperti biasa. Pergi ke kampus,
istirahat, rapat sampai sore, pulang. Ya, Ana, begitu biasa dipanggil, adalah
seorang aktivis kampus. Apapun kegiatannya, ia akan memastikan dirinya hadir di
kegiatan tersebut, walaupun hanya sekadar mendengarkan anggota lain yang sedang
mengeluarkan pendapat. Analea memang tidak suka banyak berbicara. Ia lebih suka mendengarkan orang lain berbicara, berdebat,
dan hingga akhirnya ada sebuah keputusan rapat. Bukannya tidak mau berbicara,
namun ia memang tidak bisa berdebat dengan orang lain. Argumen yang dimiliki
olehnya belum sebaik teman-temannya. Bagi Ana,
sapaan Analea, hal itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah menjadi bagian dari
sebuah organisasi. ITU SAJA.
Berbicara soal kuliah, sejak SMA sudah tidak diragukan
lagi kemampuan intelektualnya. Menjadi juara umum di angkatannya, juara di
kelas, juara olimpiade, dan segudang prestasi akademik lainnya. Tapi, hanya
sebatas itu. Ana tidak memiliki prestasi non-akademik. Ana menganggap bahwa ekstrakurikuler hanya dipenuhi
oleh anak-anak eksis di sekolahnya. Maka, Ana memutuskan hanya ikut Rohis saja,
itupun hanya sebatas anggota. Walaupun begitu, ia tetap bisa membagi waktu antara belajar dengan organisasi.
Memang, tidak semua mata kuliah bisa ia kuasai. Setidaknya, nilai di KRS Ana
tidak ada yang bernilai C. Semoga tidak
ada nilai C hingga semester akhir.
Entah mengapa, hari
ini Ana sangat bersemangat untuk berkuliah. Sangat sangat bersemangat. Hingga
ia lupa untuk menyantap sarapan yang telah disiapkan oleh mama. Terkadang harus
diingatkan oleh mama untuk membawa susu kotak yang ada di kulkas. “Kamu kan
malas makan, minum susu biar ada nutrisi tambahan untuk kamu,” begitulah ucapan
mama tiap kali Ana malas makan atau ketika tidak membawa sarapan.
Aku telah bertekad
untuk membaca doa sebelum kuliah dimulai, perhatikan dosen, kalau perlu catat
semua kata-kata yang keluar dari mulut dosen, dan FOKUS. Itulah yang selalu
diniatkan oleh Ana setibanya di kelas. Ketika ia sedang fokus mengucap
kata-kata ampuhnya di dalam hati, tiba-tiba lewat seseorang yang tak asing
lagi. Iki. Ya, dia yang melintas di depan kelas Ana adalah Iki. Entah mengapa
akhir-akhir ini Ana memerhatikan Iki. Awalnya, Iki adalah sosok yang biasa saja
bagi Ana. Tak peduli apa yang dikatakan oleh Iki, apa yang dilakukan Iki, dan
ketika Ana berbicara dengan Iki pun hanya seperlunya. Namun, lain ceritanya
dengan kali ini. Bagi Ana, awal mula perubahan Iki terjadi saat Ana berangkat
ke kampus bersama Iki dengan motor kesayangannya. Di perjalanan, Ana hanya
menjawab seperlunya tiap kali Iki melontarkan pertanyaan. Oh iya.. Gapapa .. Iya, nyantai aja. Begitulah jawaban Ana.
Dari kejauhan a.k.a. dari dalam kelas, Ana hanya mampu
menatap Iki diam-diam. Ana tidak mau Iki tahu bahwa ia sedang memerhatikannya.
Untuk hal yang satu ini, cukup Ana yang tahu. Bahkan, Ana tidak ingin
memberitahukan kepada siapa-siapa tentang perasaannya kepada Iki. Ya, cukup
hanya dirinya yang mengetahui segalanya tentang Iki. Ki, emang iya ya gue suka sama lo? Tapi, gue suka lo dari apanya?
Tampang? Biasa aja, ga ganteng-ganteng banget. Masih gantengan kakak-kakak-an
gue. Sikap? Gue belum sepenuhnya tau tentang lo. Trus, gue suka lo dari apanya
dong? Gara-gara gue pernah naik motor berduaan sama lo? Aaah masa hanya karena
itu sih??? Seketika Ana menjadi galau dengan setumpuk pertanyaan yang ada
di pikirannya. Namun, kedatangan dosen membuyarkan sejumlah tanda tanya yang
menghinggapinya entah sejak kapan.
Kuliah hari ini telah selesai. Saatnya pergi ke
sekretariat untuk rapat. Ketika di perjalanan menuju sekretariat, Ana bertemu
dengan Iki. Sialnya, Ana hanya sendirian saat itu. Ana malu untuk menegurnya.
Jadi, Ana pura-pura menunduk ke bawah sambil memainkan handphone, padahal tidak ada sms masuk ataupun hal penting lainnya.
Oh my God, kenapa gue harus ketemu Iki di
saat gue lagi sendirian? Gue speechless banget. Eh tapi dia kan belum tahu
perasaan gue ke dia gimana? Aduuh, bingung lagi gue! Begitulah gumam Ana
sepanjang perjalanan menuju sekretariat, tempat ia akan rapat bersama
teman-temannya.
Ketika Ana sedang rapat di sekretariat, tiba-tiba Iki
datang. Ya, Iki juga satu
organisasi dengan Ana. Ana pun hanya melihat sekilas ke arah Iki. Ana diam. Ia tidak ingin
berbicara kepada Iki karena memang tidak ada hal yang perlu dibicarakan dengan
Iki. Fyuuuhh.. Ana menarik napas untuk menandakan bahwa tak ada hal yang
berbeda dari Ana ketika berada dihadapan Iki. Tapi, detak jantungnya justru
semakin berdetak lebih kencang. Tiba-tiba Iki menegur Ana, “Iya kan Na, nanti
hari minggu jadi kan acaranya?” Ana mencoba menjawabnya dengan santai, “Iya,
jadi kok.” Ana langsung diam. Tak ada respon selanjutnya yang dilontarkan Ana.
Semakin hari, Ana semakin bertanya-tanya kepada dirinya. Masa iya, gue beneran suka sama Iki?
Ciyuuuss? Miapah? Awalnya gue kan biasa aja sama dia, tapi kok makin hari tiap
kali gue ketemu dia, gue makin salah tingkah, pura-pura melakukan sesuatu, dan
ga berani bicara banyak sama dia, cuma seperlunya aja. Ikiiiiii, gue juga
pengen tauuu perasaan lo kayak gimanaaa! Kalo lo cuma perlihatkan sikap yang
seperti biasa, gue makin bingung. Jujur, lo orang pertama, eh kedua deh, yang
gue suka disiniii… di kampus tercinta iniiii… Sumpah, gue ga bisa mengungkapkan
ini semua kepada siapapun, kecuali diri gue. Gue juga ga berani ngomong tentang
hal ini secara langsung sama lo. Tapi, gimana caranya yah supaya lo tau kalo
gue suka sama lo? Eh tapi sok tau banget deh gue! Gue kan ga tau yah siapa yang
lo suka? Kali aja lo udah punya pacar. Aaaaaahhhh…! ^&$@^$*^#%&
**********
Beberapa bulan kemudian.
Masa kepengurusan di organisasi yang Ana ikuti telah
berakhir. Kini, kesibukannya tak sepadat dulu ketika ia masih mengikuti
organisasi. Namun, berakhirnya kepengurusan di organisasi bukan berarti
berakhir pula rasa terpendam yang dimiliki oleh Ana terhadap Iki. Rasa
terpendam yang dimiliki Ana masih ada. Ana masih menyimpan rapat-rapat
perasaannya tersebut. Ana pun masih berharap Iki juga menyukainya dengan tulus,
tanpa maksud apapun.
Ketika sedang diadakan perpisahan kepengurusan organisasi
di Kebun Raya Bogor, tanpa disangka Iki mendekati Ana perlahan-lahan. Awalnya
Iki duduk di dekat Ana dan menanyakan kabar Ana.
“Na, gimana kabar? Baik?”
“Eh iya, Alhamdulillah Ki, baik-baik saja, hehe.” ujar
Ana sambil menyelipkan senyum.
“Alhamdulillah yah, kepengurusan kali ini udah berakhir.
Gimana kesan-kesan lo selama satu periode kita bareng-bareng jadi pengurus?”
“Emm, yah cukup berkesan. Bagi gue, kepengurusan kita di
organisasi ini udah kayak keluarga sendiri. Kita bebas ungkapin perasaan kita,
apapun itu. Marah, kesel, capek, senang, sedih. Waaaah, pokoknya unforgettable banget deh, Ki! Kalo
menurut lo gimana?”
“Menurut gue? Hmm.. Kasih tau ga yaaaah? Haha” canda Iki
sambil melemparkan tawa.
“Harus kasih tau dong! Tadi kan lo udah tau kesan-kesan
dari gue!” ucap Ana dengan wajah sedikit kesal tapi tersenyum.
“Hehe, iya.. iya.. Bagi gue, pembelajaran kehidupan di
kampus berawal dari sini. Ketika lo lagi capek setelah menyelesaikan satu
amanah, tiba-tiba amanah lainnya datang menghampiri kita dan kita dituntut
untuk menyelesaikan semuanya. Sama kan kayak kita hidup??? …….”
Ana menyimak Iki yang sedang berbicara dengan serius.
“Tapi yang
terpenting sih……” Iki terdiam seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Ana masih menunggu
Iki menyelesaikan kalimatnya.
……………….
……………….
……………….
“Yang paling
berkesan bagi aku yaaa kamu, Na.” Iki mengucapkan sesuatu yang membuat Ana terkejut.
Keduanya saling memandang dan tersenyum lega.
**********










0 Response to "Aku dan Kau, Rahasia"
Posting Komentar